Belajar Tentang Exposure

Dalam fotografi, salah satu aspek teknis yang sangat penting adalah exposure. Definisi exposure, sederhananya (menurut pemahamanku), adalah: jumlah cahaya yang masuk melalui lensa dan ditangkap di media film atau sensor di badan kamera sebagai sebuah gambar. Kalau exposure terlalu rendah, maka gambar yang dihasilkan menjadi terlalu gelap, dan disebut underexposed. Kalau exposure terlalu tinggi, maka gambar menjadi terlalu terang, dan disebut overexposed.

contoh perbedaan exposure

Gambar di atas adalah contoh perbandingan exposure. Tiga foto itu diambil dengan setting yang berbeda di kamera, dan menghasilkan exposure yang berbeda pula. Foto paling kiri dalam kondisi underexposed, dan terlihat agak gelap. Foto yang ditengah diambil dengan setting yang menghasilkan exposure yang pas. Sedangkan foto paling kanan dibuat overexposed, terlalu terang.

Exposure ditentukan oleh tiga faktor: aperture, shutter speed, dan sensitivitas film/sensor.

Aperture adalah besar kecilnya bukaan pada lensa, yang menentukan banyak atau sedikitnya cahaya yang masuk melalui lensa. Aperture dinyatakan dalam angka f-number (misalnya f/2, f/5.6, f/8, dsb). Semakin besar angkanya, semakin kecil bukaannya dan semakin sedikit cahaya yang masuk. Jadi, bukaan f/8 melewatkan cahaya lebih sedikit dari bukaan f/2.

Shutter pada kamera adalah perangkat yang berfungsi melewatkan cahaya dari lensa agar bisa ditangkap pada film atau sensor. Pada saat kita mengambil foto, pada saat itu shutter akan terbuka dan cahaya akan ditangkap oleh film atau sensor, menjadi sebuah gambar.

Shutter speed adalah lamanya waktu shutter terbuka untuk melewatkan cahaya. Shutter speed dinyatakan dalam satuan second (detik), dari yang paling singkat (misalnya 1/1000 second) sampai yang paling lama (misalnya 1 second). Semakin singkat, semakin sedikit cahaya yang masuk. Jadi, shutter speed 1/1000 second melewatkan cahaya lebih sedikit dari shutter speed 1 second.

Faktor ketiga adalah sensitivitas film/sensor yang digunakan untuk menangkap cahaya. Sensitivitas ini dinyatakan dalam angka ISO (misalnya 100, 800, 1600, dsb). Semakin besar angkanya, semakin sensitif terhadap cahaya. Semakin sensitif, maka cahaya yang ditangkap akan semakin besar. Jadi, ISO 100 akan melewatkan cahaya lebih sedikit dari ISO 800.

Hubungan antara ketiga faktor tersebut biasa digambarkan dalam bentuk segitiga exposure:

exposure triangle

Secara matematis, exposure adalah luas dari segitiga tersebut. Jika salah satu sisi berubah, maka agar luasnya sama, kedua sisi yang lain juga harus berubah. Jadi untuk mendapatkan exposure yang sama, jika ISO berubah, maka aperture dan shutter speed juga harus menyesuaikan. Atau jika aperture berubah, maka ISO dan shutter speed juga harus menyesuaikan.

Meskipun exposure tetap sama, tetapi efek dari perubahan salah satu faktor tersebut terhadap hasil gambar yang didapat akan berbeda. Mengubah aperture akan mempengaruhi depth of field. Mengubah ISO bisa mempengaruhi noise. Mengubah shutter speed akan terlihat efeknya jika memotret obyek yang bergerak.

Jadi, mendapatkan exposure yang pas adalah aspek penting yang harus diperhatikan pada saat memotret, tapi bukan satu-satunya aspek.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *