Time Horizon Dalam Berinvestasi

Dalam dunia investasi, ada konsep yang disebut time horizon (cakrawala waktu). Jika didefinisikan secara sederhana, arti dari time horizon adalah perencanaan masa berinvestasi sampai dengan saat ketika hasil dari investasi itu ingin diambil / dinikmati.

Time horizon bukan semata-mata batasan waktu yang ketat dan harus diikuti dengan tegas seperi perjanjian atau kontrak. Time horizon lebih bersifat sebagai guidance (panduan), pada saat membuat rencana, analisa, dan keputusan. Sebagai panduan dalam aspek waktu, time horizon akan mempengaruhi pertimbangan seorang investor dalam mengelola investasinya.

Sebagai contoh, seseorang yang berusia 30 tahun dan memiliki seorang anak berusia 1 tahun, akan memulai investasi, dengan harapan pada saat anaknya masuk ke perguruan tinggi, hasil dari investasinya cukup untuk membiayai biaya kuliah anaknya sampai lulus kelak.

Contoh lain, seseorang yang berusia 50 tahun yang akan pensiun dari pekerjaannya pada usia 55 tahun, ingin berinvestasi agar pada saat dia tidak lagi bekerja, dia tetap memiliki sumber pemasukan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sampai usia 90 tahun, dan bisa berwisata ke luar negeri setiap satu atau dua tahun sekali, sampai usianya 65 tahun (karena setelah itu mungkin dia sudah terlalu tua untuk bepergian jauh).

Contoh lainnya lagi, seseorang ingin menginvestasikan dana agar bisa membeli rumah baru dalam waktu 3 tahun.

Dalam contoh pertama, time horizon investasinya sampai si anak lulus kuliah. Dalam contoh kedua, time horizon investasinya adalah sepanjang sisa umur orang tersebut. Dalam contoh ketiga, time horizon investasinya adalah selama 3 tahun.

Dengan menentukan goal (tujuan yang ingin dicapai) dalam membuat suatu rencana investasi, maka seseorang akan mempertimbangkan beberapa hal mengenai jenisinvestasi yang akan dipilih.

Pertimbangan pertama tentu saja adalah berapa besar dana yang akan diinvestasikan, dan darimana sumbernya. Jika investasi dilakukan secara bertahap sepanjang time horizon, juga dipertimbangkan berapa besar dana yang harus dialokasikan secara rutin dan bagaimana pengalokasiannya terhadap pengeluaran rutin yang ada selama jangka waktu tersebut.

Pertimbangan kedua adalah jenis investasi mana yang bisa memberikan hasil yang sesuai dengan besarnya dana yang diinvestasikan dan time horizon investasinya. Apabila tidak ada jenis investasi yang bisa memberikan hasil yang cukup, apakah diperlukan tambahan dana, atau harus mencari alternatif lain.

Pertimbangan ketiga adalah apa saja resiko yang mungkin timbul pada setiap jenis investasi, selama time horizon investasi yang sudah ditentukan, dan bagaimana mengelola resiko tersebut. Tidak ada investasi yang tidak memiliki resiko, dan setiap jenis investasi memiliki resiko yang berbeda. Biasanya, besarnya resiko sebanding dengan besarnya return (imbal hasil). Investasi yang menjanjikan hasil besar, biasanya mengandung resiko yang juga besar.

Sebaiknya sebelum memulai berinvestasi (apabila akan dilakukan untuk tujuan yang serius, bukan sekedar coba-coba), terlebih dulu ditentukan goal dan time horizon. Dengan demikian rencana investasi yang dibuat bisa lebih jelas. Kemudian secara teratur pada rentang waktu tertentu, rencana dan realisasinya perlu di-review, untuk mengetahui kesesuaian antara realisasi dengan rencana, atau apabila muncul kondisi yang tidak diharapkan, bagaimana pengaruhnya terhadap rencana investasi yang sedang berjalan. Dan sewaktu-waktu, apabila dibutuhkan, juga bisa dilakukan penyesuaian pada rencana investasi maupun jenis investasi yang dipilih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *