Interstellar, an Experience of a Lifetime

Ibarat menu makanan, Gravity adalah appetizer. Main course-nya adalah Interstellar.

Akhir tahun 2013 lalu, aku “mengalami” film Gravity. “Mengalami” adalah terjemahan literal dari ungkapan bahasa Inggris “to experience”. Karena, buatku, film semacam Gravity tidak hanya sekedar ditonton. Tidak cukup hanya sekedar mengikuti jalan ceritanya. Karena Gravity adalah sebuah pengalaman baru menjelajahi angkasa luar, melalui sebuah film.

Gravity
Gravity (sumber: imdb.com)

Gravity memang menawarkan visual yang dahsyat dan jalan cerita yang menegangkan. Akting Sandra Bullock sebagai tokoh utamanya pun mengagumkan. Dengan plot yang sederhana dan durasi yang hanya sekitar 1,5 jam (relatif pendek untuk ukuran film Hollywood jaman sekarang), banyak cerita di balik layar mengenai pembuatan film tersebut yang menarik sekali buatku. Antara lain teknologi efek visualnya yang inovatif dan dibuat dengan mengikuti kondisi nyata seperti yang dialami oleh para astronaut di angkasa luar. Sehingga aku benar-benar merasa seperti sedang berada di angkasa luar (aku menontonnya di bioskop IMAX 3D) dan melihat apa yang dilihat oleh karakter Ryan yang diperankan Sandra Bullock.

Selain dari sisi visual yang menakjubkan, jalan cerita Gravity juga aku suka. Memang plotnya sederhana, seorang teknisi medis dalam misi angkasa luar pertamanya, yang berusaha kembali ke bumi setelah misinya mengalami kecelakaan sehingga pesawatnya hancur dan seluruh rekannya tewas. Tapi character developmentnya tidaklah dangkal. Bagaimana Ryan yang merasa menjadi penyebab kehancuran misi itu, dan Matt (diperankan George Clooney) sebagai pimpinan misi dan menjadi teman terakhir yang membantu Ryan agar bisa kembali ke bumi, serta bagaimana Ryan yang merasa putus asa setelah mendengar suara seorang warga Cina di transmisi radionya, yang ternyata berasal dari transmisi dari radio amatir di bumi.

Gravity adalah sebuah cerita fiksi yang diramu dengan visualisasi yang sangat realistis. Film yang mendapat banyak pujian di kalangan sinematografi dan kemudian memenangkan 7 anugerah Academy Award (piala Oscar) ini mungkin biasa saja buat kebanyakan penontonnya. Tapi buat aku, film ini luar biasa.

Film yang luar biasa itu sekarang bagaikan hidangan pembuka, setelah aku “mengalami” film Interstellar.

Interstellar
Interstellar (sumber: imdb.com)

Film Interstellar berasal dari ide Linda Obst, seorang produser film Hollywood, dan Kip Thorne, seorang profesor fisika terkemuka dari California Institute of Technology (Caltech). Mereka mencetuskan ide tentang sebuah film petualangan angkasa luar yang benar-benar ilmiah, dengan segala aspek cerita dan sinematografi yang tidak bertentangan dengan kaidah sains yang sebenarnya.

Seluruh aspek dalam film Interstellar dibuat dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip sains yang nyata. Bahkan latar belakang cerita (mengenai kondisi di bumi yang semakin sulit menumbuhkan tanaman pangan), melibatkan ilmuwan-ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu hanya untuk memastikan bahwa kondisi seperti itu bisa saja terjadi di bumi, dan bukan sekedar fantasi fiksi. Juga berbagai teori fisika yang saat ini sudah terbukti, maupun yang masih belum bisa dibuktikan tapi diyakini benar oleh kalangan ilmuwan dunia, banyak mendasari jalan cerita film ini.

Jika Gravity menakjubkan dari segi visualisasi yang realistis seperti yang dialami langsung oleh para astronaut, Interstellar menakjubkan karena visualisasinya dibuat berdasarkan rumus-rumus fisika yang berasal dari teori relativitas yang dicetuskan ilmuwan besar Albert Einstein. Efek visual yang ditampilkan dalam Interstellar, mulai dari wormhole yang muncul di dekat planet Saturnus, black hole Gargantua, planet-planet di galaksi lain, sampai tesseract di dimensi kelima, dihasilkan menggunakan simulasi komputer dari rumus-rumus yang diberikan oleh Kip Thorne kepada tim efek visual, dan sutradara Christopher Nolan yang menulis naskah film berdasarkan screenplay yang dibuat adiknya (Jonathan Nolan), menyatukan segala fondasi ilmiah tersebut dengan prinsip-prinsip sinematografi. Tanpa melupakan bahwa penonton film ini bukan semata-mata para mahasiswa fisika pasca-doktoral. Artinya, buat seorang yang awam mengenai konsep-konsep yang rumit itu, hanya perlu mengikuti dialog-dialognya dengan cermat untuk bisa memahami sisi ilmiah dari ceritanya.

Seperti halnya Gravity, buat aku Interstellar bukan hanya menakjubkan dari sisi visual dan plotnya yang ilmiah. Character development yang ditampilkan sangat menyentuh. Film ini pada dasarnya bercerita tentang seorang ayah, Cooper (diperankan Matthew McConaughey) yang meninggalkan bumi demi untuk terus bisa bersama dengan anak-anaknya. Cooper yang meninggalkan bumi untuk entah berapa lama, tidak dilepas dengan baik oleh anak perempuannya Murphy (diperankan oleh tiga aktris berbeda) pada saat menjelang keberangkatan Cooper. Bagaimana selama dalam perjalanannya di angkasa luar, Cooper harus menyaksikan anak-anaknya tumbuh dari usia kanak-kanak menjadi dewasa, sementara mereka tidak pernah tahu apakah Cooper masih hidup atau tidak. Dan endingnyapun sangat menyentuh. Sebagai seorang ayah, aku bisa merasakan kepedihan yang dirasakan Cooper, dan dialog antara Cooper dengan Murphy, bisa terjadi kapan saja antara aku dengan anak perempuanku. Sangat membumi, sangat dalam.

Sama seperti Gravity, bagi kebanyakan penonton, Interstellar mungkin terasa biasa saja. Tapi film seperti inilah yang paling aku suka. Petualangan angkasa luar, dengan cerita yang sangat ilmiah, permainan karakter yang kuat, dan tentu saja visualisasi yang dahsyat. “Mengalami” Interstellar, adalah “an experience of a lifetime”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *