Belajar Fotografi Digital: Antara Asyik dan Frustasi

Belajar fotografi digital memang mengasyikkan, tapi kadang juga bikin frustasi.

Asyiknya adalah waktu mempelajari berbagai fitur dan fasilitas yang tersedia di kamera digital yang dipakai. Asyiknya adalah waktu mencoba berbagai teori dan teknik dasar pada saat memotret. Asyiknya adalah waktu melihat-lihat hasil jepretan, di layar komputer. Asyiknya adalah waktu mencoba mengolah foto karya sendiri di komputer menggunakan software pengolah foto digital. Asyiknya adalah waktu berkumpul dengan sesama pehobi fotografi, hunting foto bareng-bareng.

Tapi ada juga frustasinya. Frustasinya adalah waktu melihat hasil fotonya berjumlah puluhan, tapi ternyata hampir semuanya blur, tidak fokus, agak gelap, atau terlalu terang, padahal momennya tidak akan terulang lagi. Frustasinya adalah waktu melihat hasil foto teman ternyata lebih menarik, padahal yang difoto obyek atau pemandangan yang sama. Frustasinya adalah waktu mempelajari suatu fitur atau fasilitas di kamera digital, tapi tak kunjung paham fungsinya dan apa efeknya pada hasil jepretan, padahal kalau tidak paham benar apa fungsinya, tentu tidak bisa memanfaatkan fitur itu dengan optimal. Frustasinya adalah waktu sudah banyak referensi yang dibaca, video yang ditonton, kursus dan hunting yang diikuti, tapi tetap saja begitu sampai di lokasi dan mengeluarkan kamera, kesulitan mencari ide, apa yang mau difoto, dari sudut mana mengambil fotonya, dan sebagainya.

Padahal fotografi digital jaman sekarang sudah canggih sekali, dan kegiatan menjepret foto semakin gampang (katanya). Kalau asal jepret dan asal kelihatan gambarnya, mungkin memang gampang (apalagi sekarang kamera ponsel juga sudah canggih sekali, dan hampir setiap keluarga sekarang punya ponsel berkamera atau kamera digital, minimal kamera saku). Tapi setiap melihat hasil foto-foto para fotografer yang ada di forum-forum internet, atau di majalah-majalah fotografi, atau di galeri pameran-pameran foto, keinginan untuk belajar foto yang lebih dari sekedar dokumentasi, jadi meluap-luap. Dan rasanya tidak sabar untuk segera bisa membuat foto yang sekeren foto-foto itu.

Bayangkan kalau fotografi digital belum ada. Seperti 20 tahun lalu, waktu masih jamannya kamera analog yang pakai film negatif. Bayangkan kalau setelah menghabiskan film 1 rol (biasanya isi 36), kemudian pergi ke toko layanan cuci-cetak, dan beberapa hari kemudian menerima hasil cetaknya, dan banyak yang kurang memuaskan atau malah hitam kelam, alamak…..

Memang fotografi adalah suatu ilmu, seni, yang harus dipelajari terlebih dulu. Walaupun sudah pakai perangkat paling canggih dan paling mahal sekalipun, kalau ilmunya masih nol, atau kreativitasnya belum dapat, ya hasilnya biasa-biasa saja (atau malah jelek). Sama dengan seni musik, baik itu menyanyi maupun memainkan alat musik, ada ilmunya, dan perlu kreativitas yang cukup. Atau seperti di dunia IT, menjadi seorang programmer misalnya. Juga ada ilmu yang harus dipejari, dan kreativitas. Semuanya harus melalui tahap belajar, berlatih, mencari pengalaman, mengasah skill.

Jadi, ayo terus memotret!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *